Pages

Tampilkan postingan dengan label Dasar Diagnostik dan Terapi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dasar Diagnostik dan Terapi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Januari 2015

Interpretasi Hasil Pemeriksaan Penunjang Normal (Pemeriksaan Urin dan Darah)

Berikut dibawah ini merupakan nilai/kadar normal dari pemeriksaan penunjang laboratorium:
  • Pemeriksaan Urin
Yang diperiksa warna urin, berat jenis urin, pH urin, Leukosit didalam urin.

  • Pemeriksaan Darah
Yang diperiksa dalam darah adalah kadar Hemoglobin (Hb), Leukosit, Ureum, Kreatinin, Gula Darah Sewaktu (GDS), SGOT, SGPT, Elektrolit (Natrium/Kalium/Chlorine).



Minggu, 07 Desember 2014

Otitis Media Supurativa Kronis (OMSK)

Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK) dahulu disebut otitis media perforate (OMP) atau dalam sebutan sehari-hari disebut dengan congek. Yang disebut otitis media supuratif kronis ialah infeksi kronis telinga tengah dengan perforasi membrane timpani dan sekret yang keluar dari telinga tengah terus menerus atau hilang timbul. Sekret mungkin encer atau kental, bening atau berupa nanah.


Perjalanan penyakit

Otitis media akut dengan perforasi membrane timpani menjadi otitis media supuratif kronis apabila prosesnya sudah lebih dari 2 bulan. Bila proses infeksi kurang dari 2 bulan, disebut dengan otitis media supuratif subakut. Perubahan dari akut menjadi kronis ini bisa dikarenakan terapi yang terlambat diberikan, terapi yang tidak adekuat, virulensi kuman tinggi, daya tahan tubuh pasien rendah (gizi kurang) atau hygiene buruk.


Letak Perforasi

Letak perforasi di membrane timpani penting untuk menentukan tipe/ jenis OMSK. Perforasi membrane timpani dapat ditemukan di daerah sentral, marginal atau atik. Oleh karena itu disebut perforasi sentral, marginal atau atik.

Pada perforasis sentral, perforasi terdapat di pars tensa, sedangkan di seluruh tepi perforasi masih ada sisa membran timpani. Pada perforasi marginal sebagian tepi perforasi langsung berhubungan dengan annulus atau sulkus timpanikum. Perforasi atik adalah perforasi yang terletak di pars flaksida.


Jenis OMSK

Dapat dibagi atas 2 jenis, yaitu (1) OMSK tipe aman (tipe mukosa = tipe banigna) dan (2) OMSK tipe bahaya (tipe tulang = tipe maligna).

Berdasarkan aktivitas sekret yang keluar dikenal juga OMSK aktif dan OMSK tenang. OMSK aktif ialah OMSK dengan sekret yang keluar dari kavum timpaninya terlihat basah atau kering.

Proses peradangan pada OMSK tipe aman terbatas pada mukosa saja, dan biasanya tidak mengenai tulang. Perforasi terletak di sentral. Umumnya OMSK tipe aman jarang menimbulkan komplikasi yang berbahaya. Pada OMSK tipe aman tidak terdapat kolesteatoma.

Yang dimaksud dengan OMSK tipe maligna ialah OMSK yang disertai dengan kolestetoma. OMSK ini dikenal juga dengan OMSK tipe bahaya atau OMSK tipe tulang. Perforasi pada OMSK tipe bahaya letaknya marginal atau di atik, kadang-kadang terdapat juga kolesteatoma pada OMSK dengan perforasi subtotal. Sebagian besar komplikasi yang berbahaya atau fatal timbul pada OMSK tipe bahaya.


DIAGNOSIS

Diagnosis OMSK dibuat berdasarkan gejala klinik dan pemeriksaan THT terutama pemeriksaan otoskopi. Pemeriksaan penala merupakan pemeriksaan sederhana untuk mengetahui adanya gangguan pendengaran. Untuk mengetahui jenis dan derajat gangguan pendengaran dapat dilakukan pemeriksaan audiometric tutur (speech audimetry) dan pemeriksaan BERA (brainstem evoked response audiometry) bagi pasien/anak yang tidak kooperatif dengan pemeriksaan audiiometri nada murni.

Pemeriksaan penunjang lain berupa foto rontgen mastoid serta kultur dan uji resistensi kuman dari sekret telinga.


TANDA KLINIS OMSK TIPE BAHAYA

Mengingat OMSK tipe bahaya seringkali menimbulkan komplikasi yang berbahaya, maka perlu ditegakkan diagnosis dini. Walaupun diagnosis pasti baru dapat ditegakkan di kamar operasi, namun beberapa tanda klinik dapat menjadi pedoman akan adanya OMSK tipe bahaya, yaitu perforasi pada marginal atau pada atik. Tanda ini biasanya merupakan tanda dini dari OMSK tipe bahaya, sedangkan pada kasus yang sudah lanjut dapat terlihat; abses atau fistel retroaurikuler (belakang telinga), polip atau jaringan granulasi di liang telinga luar yang berasal dari dalam telinga tengah, terlihat kolesteatoma pada telinga tengah, (sering terlihat di epitimpanium), sekret berbentuk nanah dan berbau khas (aroma kolesteatoma) atau terlihat bayangan kolesteatoma pada foto rontgen mastoid.


TATALAKSANA

Terapi OMSK tidak jarang memerlukan waktu lama, serta harus berulang-ulang. Sekret yang keluar tidak cepat kering atau selalu kambuh lagi. Keadaan ini antara lain disebabkan oleh satu atau beberapa keadaan, yaitu:
1.) Adanya perforasi membrane timpani yang permanen, sehingga telinga tengah berhubungan dengan dunia luar
2.) Terdapat sumber infeksi di faring, nasofaring, hidung dan sinus paranasal
3.) Sudah terbentuk jaringan patologik yang ireversibel dalam rongga mastoid, dan
4.) Gizi dan higiena yang kurang.

Prinsip terapi OMSK tipe aman ialah terapi konservatif atau dengan medikamentosa. Bila sekret yang keluar terus menerus, maka diberikan obat pencuci telinga, berupa larutan H2O2 3% selama 3-5 hari. Setelah sekret berkurang, maka terapi dilanjutkan dengan memberikan obat tetes telinga yang mengandung antibiotik dan kortikosteroid. Banyak ahli berpendapat bahwa semua obat tetes yang dijual di pasaran saat ini mengandung antibiotik yang bersifat ototoksik. Oleh sebab itu sebaiknya agar obat tetes telinga jangan diberikan  terus menerus lebih dari 1 atau 2 minggu atau pada OMSK yang sudah tenang. Secara oral diberikan antibiotik dari golongan ampisilin, atau eritromisin, (bila pasien alergi terhadap penisilin), sebelum hasil tes resistensi diterima. Pada infeksi yang dicurigai  karena penyebabnya telah resisten terhadap ampisilin dapat diberikan ampisilin asam klavulanat.

Bila sekret telah kering, tetapi perforasi masih ada setelah di observasi selama 2 bulan, maka idealnya dilakukan miringoplasti atau timpanoplasti. Operasi ini bertujuan untuk menghentikan infeksi secara permanen, memperbaiki membrane timpani yang perforasi, mencegah terjadinya komplikasi atau kerusakan pendengaran yang lebih berat serta memperbaiki pendengaran.

Bila terdapat sumber infeksi yang menyebabkan sekret tetap ada, atau terjadinya infeksi berulang, maka sumber infeksi itu harus diobati terlebih dahulu, mungkin juga perlu melakukan pembedahan misalnya adenoidektomi dan tonsilektomi.

Prinsip terapi OMSK tipe bahaya ialah pembedahan, yaitu mastoidektomi. Terapi konservatif dengan medikamentosa hanyalah merupakan terapi sementara sebelum dilakukannya pembedahan. Bila terdapat abses subperiosteal retroaurikuler, maka insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum mastoidektomi.

Sumber:

Soepardi, Efiaty Arsyad, dkk. 2012. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher Edisi Ketujuh. Jakarta: Badan Penerbit FKUI.

Minggu, 21 September 2014

Penatalaksanaan Konstipasi

Pada prinsipnya untuk merawat penderita konstipasi ialah:
  1. Harus dicari penyebab konstipasinya
  2. Memberikan edukasi kepada penderita agar dapat melakukan defekasi secara alamiah
  3. Menghentikan kebiasaan pemakaian laksativ dan enema
  4. Mengebalikan dan membiasakan agar dapat defekasi sendiri tanpa menggunakan obat-obatan.
Oleh karena itu perawatan konstipasi untuk tiap penderita tidak selalu sama, dan harus dicari sebabnya. Memberi penerangan kepada penderita, agar supaya teratur pada waktu-waktu yang tertentu melakukan defekasi.
  • Senam, perlu sekali dianjurkan untuk melakukan senam perut untuk memperkuat dinding perut. Senam ini terutama perlu sekali dianjurkan kepada penderita dengan atoni pada otot perut. Sebaiknya melakukan senam sehari 2 kali.
  • Diet, pengaturan diet perlu sekali, dianjurkan makan makanan yang mengandung banyak sayur-sayuran, buah-buahan yang banyak mengandung selulosa. Selulosa yang dimakan susah dicerna sebab didalam badan kita tak mempunyai enzim selulosa. Jadi selulosa berguna untuk memperlancar defekasi. Dianjurkan minum yang banyak, sekurang-kurangnya 1 liter sehari. Minum susu tiap hari adalah baik. Dilarang makan makanan yang menyebabkan timbulnya konstipasi misalnya pala, salak, tepung beras, kue-kue.
  • Obat-obatan, pada orang yang menderita konstipasi lebih dari 3 hari, pertama-tama harus dilakukan lavement, dapat dicoba dulu dengan memberikan glycerin yang dihangatkan. Atau dapat diberikan dulcolax suppositoria yang biasanya kurang mengadakan iritasi terhadap mukosa rektum. Cara ini sering dianjurkan terhadap penderita yang lama istirahat di tempat tidur. Pada penderita konstipasi yang disebabkan oleh dyschezia, dapat diberikan obat-obatan sampai proses defekasi tidak terganggu. Tapi yang terpenting ialah dianjurkan melakukan senam perut dan memberikan diit.

Obat-obatan yang berupa :
a. Synthetic bulging (swelling) agents. Yang dapat menghasilkan selulosa. Sebagian obat-obatan menimbulkan peristaltik. Sebagian besar berasal dari tumbuh-tumbuhan. Termasuk golongan ini ialah: konsyl, metamucil, mucilosa, plancello, calogal, stolus.

b. Obat-obatan yang bersifat melembekkan (stool softners). Pada penderita-penderita dengan penyakit anal, striktur pada rektum atau anus, biasanya tinjanya keras. Oleh karena itu dapat dicoba dengan obat yang bersifat melembekkan tinja, misalnya: colase, doximate, aguatyl, Dio medicone.

Sumber:
Hadi, Sujono. 2013. Gastroenterologi. Bandung: Alumni.

Kamis, 01 Mei 2014

Apendisitis

Apendisitis adalah peradangan apendiks yang mengenai semua lapisan dinding organ tersebut. Apendisitis merupakan penyakit bedah mayor yang paling sering terjadi. Apendisitis dapat terjadi pada semau usia, namun mayoritas terjadi pada remaja dan dewasa muda. Patogenesis utamanya diduga karena adanya obstruksi lumen yang biasanya disebabkan oleh fekalit (feses keras yang disebabkan oleh serat). Penyumbatan pengeluaran sekret mukus mengakibatkan terjadinya pembengkakan, infeksi, dan ulserasi. Peningkatan tekanan intraluminal dapat menyebabkan terjadinya oklusi arteria terminalis (end-artery) apendikularis. Bila keadaan ini dibiarkan berlangsung terus, biasanya mengakibatkan nekrosis, gangren, dan perforasi. Penelitian terakhir menunjukkan bahwa ulserasi mukosa berjumlah sekitar 60 hingga 70% kasus, lebih sering daripada sumbatan lumen. Penyebab ulserasi tidak diketahui, walaupun sampai sekarang diperkirakan disebabkan oleh virus. Akhir-akhir ini penyebab infeksi yang paling diperkirakan adalah Yersinia enterocolitica.

Gambaran Klinis
Pada kasus apendisitis akut klasik, gejala awal adalah nyeri atau rasa tidak enak disekitas umbilikus. Gejala ini umumnya berlangsung lebih dari 1 atau 2 hari. Dalam beberapa jam nyeri bergeser ke kuadran kanan bawah dengan disertai oleh anoreksia, mual, dan muntah. Dapat juga terjadi nyeri tekan di sekitar titik McBurney. Kemudian, dapat timbul spasme otot dan nyeri tekan lepas. Biasanya ditemukan demam ringan dan leukositosis sedang. Apabila terjadi ruptur apendiks, tanda perforasi dapat berupa nyeri, nyeri tekan dan spasme. Penyakit ini sering disertai oleh hilangnya rasa nyeri secara dramatis untuk sementara.
Penegakan Diagnosis apendisitis seringkali rumit dikarenakan banyak juga gangguan lain yang memberikan gejala klinis abdomen akut yang harus dibedakan dari apendisitis akut. Kesukaran penegakan diagnosis juga timbul karena beberapa individu (terutama bayi dan orang tua) menyimpang dari gambaran klasik. Bila diagnosis masih meragukan, maka lebih baik dilakukan pembedahan karena operasi apendisitis yang ditangguhkan dapat menyebabkan terjadinya ruptur apendiks dan peritonitis. Perawatan di rumah sakit menjadi lebih lama dan beberapa penderita dapat meninggal akibat peritonitis

Terapi
Setelah diagnosis apendisitis ditegakkan, maka pasien dipersiapkan untuk menjalani pembedahan, dan apendiks segera dibuang setiap saat, siang maupun malam. Bila pembedahan dilakukan sebelum terjadi ruptur dan tanda peritonitis, perjalanan pascabedah umumnya tanpa disertai penyulit. Pemberian antibiotik biasanya diindikasikan. Waktu pemulangan pasien bergantung pada seberapa dini penegakan diagnosis apendisitis, derajat inflamasi, dan penggunaan metode bedah terbuka atau laparoskopi.


Sumber: Price,Sylvia A, Lorraine M. Wilson. 2012. PATOFISIOLOGI Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Volume 1 Edisi 6. Jakarta: EGC.

Jumat, 29 Maret 2013

Efloresensi Kulit (Kelainan Kulit)

A. BENTUK
a. Primer
  • Makula , berupa bercak pada kulit (biasanya faktor genetik). Makula eritem adalah makula yang berwarna merah (karena darah).
Makula

Makula Eritem
  • Papula , bentuknya seperti makula namun menonjol/ timbul. (Seperti bekas gigitan nyamuk --> Papula Eritem)
Papula Eritema

  • Vesicle , bentuknya bulat kecil dan menonjol, berisi cairan bening karena nekrosis sel.
  • Bulla , Vesicle yang besar.
  • Pustula , vesicle yang berisi nanah (pus).
  • Nodul, bisul besar yang bermassa padat < 1 cm dan nodulus berwarna gelap (hitam biasanya).

  • Urtika , bentuknya garis dan edema, timbul mendadak dan hilang perlahan.
  • Abscess , Bisul kecil lembek berisi nanah dalam jaringan.


b. Sekunder
  • Erosi, luka yang tidak melebihi jaringan Stratum basal sehingga tidak keluarnya darah (lukanya seperti erosi, masuk kedalam kulit, bukan edema. (seperti bekas cakaran yang tidak mengeluarkan darah).

  • Ekskoriasi, melebihi jaringan stratum basal hingga ke ujung papil sehingga keluarnya darah (seperti bekas garukan yang terlalu berlebihan hingga berdarah).
  • Ulkus, kehilangan jaringan yang sangat parah melebihi ekskoriasi.
  • Kista, Tumor jinak berdinding berisi cairan sisa sel.
  • Krusta, cairan badan yang mengering dan bercampur dengan jaringan nekrotik.
  • Skuama, berupa sisik halus sedangkan yang kasar seperti panu.



  • Sikatriks, (scar) bekas luka. Atrofi berupa bekas jerawat, hipertrofi berupa bopeng, keloid : parah.

B. UKURAN
    • Miliar                  : Sebesar ujung jarum pentul.
    • Lentikular            : Sebesar biji jagung.
    • Numular              : Sebesar koin logam.
    • Plakat                  : > Numular

C. SUSUNAN
  • Linier : garis lurus.
  • Sirsinar Anular : Lingkaran.
  • Arsinar : Bulan sabit.
  • Polisiklik : pinggiran sambung menyambung.
  • Korimbiformis : seperti induk ayam yang dikelilingi anak-anaknya.

D. PENYEBARAN & LOKALISASI
    • Generalisata, tersebar disebagian besar badan.
    • Universalis, tersebar hampir/seluruh badan.
    • Sirkumskrip, berbatas tegas.
    • Difus, tidak berbatas tegas.
    • Solitar, hanya 1 lesi.
    • Konfluens, > 2 lesi yang menjadi 1.
    • Herpetiformis, Vesicle berkelompok (Ex: Herpes Zoster)
    • Irisformis, Eritema yang berbentuk bulat lonjong dengan vesicle yang berwarna lebih gelap ditengahnya.
    • Serpiginosa, menjalar ke 1 jurusan dengan penyembuhan pada bagian yang ditinggalkan.
    • Simetrik,  mengenai kedua belah badan yang sama.
    • Bilateral, mengenai kedua belah badan.
    • Unilateral, mengenai sebelah badan.
dosen : dr. Sugiarto

Selasa, 19 Februari 2013

Morfologi, Sifat Gram, Ciri-ciri - BAKTERI


Dibawah ini merupakan "Bentuk dan Susunan" Bakteri :


Dibawah ini merupakan contoh bakteri :
  • Neisseria gonorhoeae

Morfologi : Neisseriae
Sifat Gram : ( - ) Negatif / Merah
Ciri-ciri : Seperti biji kopi

  • Tetraden

Morfologi : Tetraden
Sifat Gram : ( + ) Positif / Ungu
Ciri-ciri : Bentuknya bulat dan ada 4
Pewarnaan Gram Diferensial

  • Bacillus subtilis





Morfologi : Basil
Sifat Gram : ( + ) Positif / Ungu
Ciri-ciri : Seperti persegi panjang, tebal
Pemeriksaan Mikroskopik Pewarnaan Gram

  • Salmonella typhi


Morfologi : Basil
Sifat Gram : ( - ) Negatif / Merah
Pemeriksaan mikroskopik

  • Streptococcus viridans


Morfologi : Streptokokus
Sifat Gram : ( + ) Positif / Ungu
Ciri-ciri : Seperti bulat berantai, terdiri lebih dari 4 kokus (bulat)
Pewarnaan Gram / Pewarnaan Differensial

  • Staphylococcus aureus


Morfologi : Stafilokokus
Sifat Gram : ( + ) Positif / Ungu
Ciri-ciri : Seperti anggur, bergerombol, bulat
Pewarnaan Gram/ Differensial

  • Clostridium tetani



Morfologi : Spora
Sifat Gram : ( + ) Positif / Ungu
Ciri-ciri : Seperti sperma, badan sel bakteri seperti berwarna ungu, Spora tampak jernih, Letak spora terminal
Pewarnaan Gram

  • Bacillus fragilis

Morfologi : Basil
Sifat Gram : ( - ) Negatif / Merah
Ciri-ciri : seperti persegi panjang (basil)

  • Escherichia coli



Morfologi : Kokobasil
Sifat Gram : ( - ) Negatif / Merah
Ciri-ciri : bentuknya Lonjong (tidak bulat/kokus, tidak persegi panjang/basil), Bergerombolan,
Pewarnaan Gram

  • Vibrio cholerae



Morfologi : Vibrio
Sifat Gram : ( - ) Negatif / Merah
Ciri-ciri : Batang bengkok, Seperti Gulali (Halus Bentuknya), Bergerombolan, Tipis


Tutor & Dosen : dr. Jekti, dr. Rayhana

Minggu, 17 Februari 2013

ANAMNESIS

Critical Point :
  • Ekspresi empati
  • Tatapan mata sejajar dengan pasien, jika pasiennya anak kecil atau pasien berkursi roda, jongkoklah sambil menggenggam tangan si anak atau bahu pasien
  • Sikap, tingkah, dan ucapan harus sopan dan santun
  • Pertanyaan Sistemik
  • Jangan biarkan Pasien terlalu "curhat"
  • Jangan lupa meminta izin diminta informasinya

Prosedure :
  1. Memberi salam
  2. Menanyakan keperluan pasien (jangan sampai, itu bukan pasien dan hanya orang yang minta sumbangan! Hahaha... Soalnya waktu praktik CSL, banyak yang speechless karna temen gue udah sampe inform consent, eh ternyata dokter yang ngujinya bilang "Emangnya saya kesini mau berobat?! Orang saya mau minta sumbanga..." "..." speechless dengan tampang pucat temen gue itu... Hahaha)
  3. Memperkenalkan diri
  4. Menanyakan nama lengkap
  5. Meminta izin
  6. Menanyakan Keluhan dan Riwayat Penyakit :
  • Umur
  • Pekerjaan
  • Alamat (Lengkap)
  • Agama
  • Status Perkawinan (Sudah/Belum)
  • Keluhan Utama (KU) (Keluhan yang menyebabkan pasiendatang berobat)
  • Riwayat Penyakit Sekarang (RPS) (Dikembangkan pertanyaan secara sistemik seperti dimana rasa sakitnya, seperti apa rasa sakitnya apa seperti ditusuk atau seperti berputar, apa semakin memburuk atau mendingan, sudah sejak kapan, hilang timbul tidak, dan lainnya)
  • Keluhan Tambahan (KT) (Keluhan lainnya yang dirasakan pasien)
  • Riwayat Penyakit Dahulu (RPD) (Dulu pernah sakit serupa ngga? berapa lama? sembuh setelah apa? dan lainnya)
  • Riwayat Penyakit Keluarga (RPK) (apakah penyakit keturunan atau bukan)
  • Riwayat Penyakit Lingkungan (RPL) (Tetangga ada yang sakit juga? Teman sekalas? dan lainnya)
  • Riwayat Penyakit Alergi (RPA) (Ada alergi apa?)
  • Riwayat Pengobatan Penyakit (RPP)                                                                                                
     7.  Crosscheck (Mengatakan kembali kepada pasien yang benar-benar positif saja untuk mengecheck kembali info yang diberikan serta bertanya apakah masih ada yang kurang keluhannya)

Setelah anamnesis selesai dilakukan, akan dilakukannya Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaaan Tanda Vital serta pemeriksaan penunjang jika dibutuhkan.

Tutor : dr. Busjra

Sabtu, 16 Februari 2013

PERAWATAN LUKA


    Alat dan Bahan :
  • Nierbeken (Bengkok)
  • Kom
  • Pinset (Anatomis/Sirurgis)
  • Lidi Waten
  • Tulle
  • Kasa Steril
  • Micropor (Plester)
  • Providone Iodine
  • NaCL / RL (Ringer Laktat)
  • Gunting
  • Korengtang
  • Handscoon (Sarung Tangan) Steril dan 1x pakai/bersih
  • Perlak
          Critical Point :
  1. Harus tetap Steril dari awal perawatan hingga cuci tangan rutin
  2. Jangan sebut bengkok, tapi sebutlah Nierbeken
  3. Ketika ingin mengambil pinset atau alat steril lainnya gunakan handscoon steril, namun jika sedang menggunakan sarung tangan 1x pakai/ bersih, ambillah alat steril (seperti pinset) menggunakan Korengtang
  4. Tidak menaruh peralatan dan bahan steril di tempat tidur pasien, kalau bisa dekatkan meja dengan tempat tidur pasien (terutama yang dekat dengan Luka)
  5. Buang Sampah dari Nierbeken ke tempat sampah medis dengan masih menggunakan Handscoon steril
  6. Jangan lupa untuk melakukan Dekontaminasi pada Alat yang telah dipakai. Lakukan selama ± 10 Menit
  7.  Jangan lupa untuk cuci tangan Rutin ketika semuanya sudah selesai dilaksanakan.


 A.     LUKA KERING
  • Siapkan peralatan perawatan luka
  • Jelaskan prosedur pada pasien (Inform Consent)
  • Letakkan meja (berisikan peralatan dan bahan steril) didekat luka pasien (bukan di tempat tidur)
  • Tutup tirai (jika ada)
  • Bantu pasien pada posisi nyaman dan minta agar pasien tidak menyentuh peralatan steril dan daerah disekitar luka maupun lukanya sendiri
  • Pasang Perlak pada daerah disekitar luka
  • Cuci tangan asepsis lalu gunakan handscoon bersih
  • Ambillah korengtang untuk mengambil Pinset Anatomis (jika tidak ada gunakan Pinset sirurgis)
  • Ambil Kasa steril dengan menggunakan pinset (Pinset ke1)
  • Celupkan pada kom berisi NaCl
  • Gunakan ini untuk membuka plester dengan mudah (jika pasien berbulu lebat/ jika plester sulit dibuka karena sakit)
  • Buang kasa bekas NaCl ke Nierbeken
  • Bukalah Plester dan kasa menggunakan pinset secara perlahan dan searah dengan arah plester, lalu buang ke nierbeken
  •  Bukalah tulle (jika ada) dan buang tulle bekas dan pinset yang telah digunakan ke dalam nierbeken
  •  Lakukan Observasi Luka
  •  Buka Handscoon bersih yang sedang dipakai dan buang handscoon bekas ke dalam nierbeken
  • Gunakan Handscoon steril yang telah disiapkan diatas meja
  •  Ambil pinset anatomis steril (pinset ke2) dan ambil kasa steril menggunakan pinset
  •  Celupkan kasa kedalam Providone Iodine dan peras mengunakan 2 pinset (pinset ke2 dan pinset ke3)
  • *2 langkah diatas bisa digantikan dengan menggunakan Lidi waten yang dicelupkan di providone iodine, tidak menggunakan pinset dan kasa*
  •  Bersihkan luka dengan cara memutar kasa dari luka karah luar luka (bersihkan dari dalam ke luar)
  • Buanglah kasa kedalam nierbeken dan lakukan hal tersebut hingga tidak ada lagi cairan atau kotoran yang keluar dari dalam luka.
  • Ambil kasa steril menggunakan pinset dan celupkan kedalam NaCl lalu peras hingga tidak terlalu berair. (Pinset ke2 dan ke3 tetap steril, jadi bisa ditaruh kembali ke dalam tempat steril)
  • Lakukan langkah tadi, dengan mengoleskan dari dalam luka kearah luar kemudian dibuang ke dalam nierbeken kasanya.
  • Taruh kembali pinset (ke2 dan ke3) kedalam tempat steril
  • Ambillah Tulle yang sudah disiapkan dan gunting sesuai dengan besar luka
  •  Bukalah tulle menggunakan handscoon steril yang sedang dipakai
  • Ambillah tulle dengan menggunakan pinset (pinset ke2)
  • Tempelkan tulle yang sudah dibuka ke atas luka
  • Ambil kasa dan taruh diatas tulle. Ambil lagi 1 kasa dan tutupi kasa sebelumnya (2 lapis kasa)
  • Potong mikropor dan tempellah ke atas kasa. Lakukan hingga kasa terlihat rapih.
  • Beritahu pasien bahwa Perawatan luka telah selesai dilakukan dan pasien sudah dapat merapihkan kembali pakaiannya dan siap pulang
  • Lakukan dekontaminasi peralatan selama ±10 menit direndam didalam Larutan Klorin
  • Buang sampah dari nierbeken ke tempat sampah medis
  • Angkat perlak dan rapihkan (lipat dan taruh pada tempat semula)
  • Cuci handscoon di klorin hingga bersih (sambil menggunakan handscoon, tidak dilepas) dan buka handscoon lalu buang ke tempat sampah medis
  •  Cuci tangan rutin
  • Buat Laporan perawatan luka


 B. LUKA BASAH
  •   Siapkan peralatan perawatan luka
  •  Jelaskan prosedur pada pasien (Inform Consent)
  •  Letakkan meja (berisikan peralatan dan bahan steril) didekat luka pasien (bukan di tempat tidur)
  • Tutup tirai (jika ada)
  • Bantu pasien pada posisi nyaman dan minta agar pasien tidak menyentuh peralatan steril dan daerah disekitar luka maupun lukanya sendiri
  •  Pasang Perlak pada daerah disekitar luka
  • Cuci tangan asepsis lalu gunakan handscoon bersih
  •  Ambillah korengtang untuk mengambil Pinset Anatomis (jika tidak ada gunakan Pinset sirurgis)
  • Ambil Kasa steril dengan menggunakan pinset (Pinset ke1)
  • Celupkan pada kom berisi NaCl
  •  Gunakan ini untuk membuka plester dengan mudah (jika pasien berbulu lebat/ jika plester sulit dibuka karena sakit)
  •  Buang kasa bekas NaCl ke Nierbeken
  •  Bukalah Plester dan kasa menggunakan pinset secara perlahan dan searah dengan arah plester, lalu buang ke nierbeken
  • Bukalah tampon kotornya secara perlahan (agar pasien tidak merasa sakit) dan buanglah ke dalam nierbeken beserta pinsetnya (Pinset 1)
  •   Lakukan observasi luka
  •  Gantilah handscoon dengan membuang handscoon bersih ke dalam nierbeken dan memakai handscoon steril yang sudah disiapkan
  • Ambil pinset (pinset 2) dan ambillah kasa menggunakan pinset
  • Celupkan kasa pada Providone Iodine lalu peras hingga tidak terlalu berair
  • Bersihkan luka luar dengan 1 kali arah lalu buang ke dalam nierbeken
  • Ambil lagi kasa steril dan celupkan ke dalam NaCl lalu peras
  • Bersihkan luka atas yang terkena Providone Iodine dengan 1 kali arah lalu buang ke dalam Nierbeken
  • Ambil Kasa steril dan celupkan kedalam Kom berisi NaCl dan peras
  • Gunakan itu untuk membersihkan Luka dalam hingga tidak ada lagi cairan yang keluar dan buanglah ke nierbeken
  •  Ambillah kasa steril dan celupkan kedalam NaCl dan peras (jangan terlalu kering)
  •  Taruh kedalam luka untuk dijadikan tampon
  •  Ambil Kasa steril dan celukan ke NaCl lalu peras (jangan terlalu kering)
  •  Tutupi luka atas dengan kasa yang telah dicelupkan di NaCl
  •  Ambil kasa steril dan tutupi kasa berisi NaCl
  • Potonglah micropor lalu tutupi kasa. Lakukan hingga kasa terlihat rapih.
  • Beritahu pasien bahwa Perawatan luka telah selesai dilakukan dan pasien sudah dapat merapihkan kembali pakaiannya dan siap pulang
  • Lakukan dekontaminasi peralatan selama ±10 menit direndam didalam Larutan Klorin
  • Buang sampah dari nierbeken ke tempat sampah medis
  • Angkat perlak dan rapihkan (lipat dan taruh pada tempat semula)
  • Cuci handscoon di klorin hingga bersih (sambil menggunakan handscoon, tidak dilepas) dan buka handscoon lalu buang ke tempat sampah medis
  • Cuci tangan rutin
  • Buat Laporan perawatan luka


Tutor : dr. Zul dan dr. Adib